Penerapan Tehnik Pemodelan Berdasarkan Pendekatan Kontekstual Pada Sub Pokok Bahasan Kubus Dan Balok Di Kelas V SD Tahun Pelajaran 2010/2011

0
BAB I
PENDAHULUAN


1.1.  Latar belakang masalah
Kemajuan teknologi semakin pesat dan banyak memacu dunia pendidikan untuk berpola berpikir cepat dan tepat. Pendidikan yang menuntut pola pikir, salah satunya adalah pendidikan matematika sebagai salah satu bidang studi yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan mempunyai peran sangat dominan dalam mencerdaskan siswa dengan jalan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analisis dan logis. Tentang matematika dan matematika sekolah Soedjadi (dalam W.L. Sihombing 1999 : 1) mengemukakan bahwa:
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya mempunyai peranan penting dalam upaya pengusahaan ilmu dan tehnologi. Ini berarti bahwa sampai batas tertentu matematika perlu di kuasai oleh segenap warga bangsa Indonesia, baik penerapannya maupun pola pikirnya. Matematika sekolah merupakan bagian dari matematika yang dipilih atas dasar kepentingan pengembangan kemampuan dan kepribadian peserta didik serta perkemabangan ilmu  dan teknologi, perlu selalu dapat sejalan dengan tuntutan kepentingan peserta didik menghadapi masa depan.

Ungkapan tersebut menunjukan bahwa matematika mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap aspek kehidupan.
            Kenyataan yang terjadi dewasa ini, hasil belajar siswa pada bidang studi matematika kurang menggembirakan. Rendahnya prestasi belajar tersebut diungkapkan Umar Yahya (Kompas 8 Desember 2000 : 10) bahwa “Kemampuan anak Indonesia di bidang matematika dan IPA rendah”. Hasil Ujian Nasional tingkat SMP dan SMA misalnya, dari tahun ke tahun menunjukan bahwa pada umumnya siswa Indonesia lemah terhadap matematika, mereka menganggap bahwa matematika itu adalah belajar sulit. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyono (2004 : 1) yang menyatakan bahwa: “dari bidang studi yang di ajarkan di sekolah, matematika merupakan bidang studi yang di anggap paling sulit oleh para siswa baik yang tidak berkesulitan belajar dan lebih-lebih yang berkesulitan belajar”. Hal senada juga di ungkapkan oleh W.L. Sihombing (1999 : 10) menyatakan bahwa :”salah satu penyebab rendahnya matematika adalah adanya kesulitan belajar siswa dalam mempelajari matematika”.
            Banyak faktor yang mungkin menyebabkan hasil belajar siswa rendah di antaranya: faktor guru yang  mengajar dengan metode dan tehnik yang di gunakan dalam pengajaran matematika seperti yang di temukan Umaedi (dalam cecep E. Rustana, 2003 : iii) bahwa : “perlu untuk menyajikan buku tentang konsep dasar pembelajaran dan pengajaran kontekstual kepada masyarakat sekolah khusus guru”. Pemilihan metode pengajaran sangat perlu di lakukan oleh guru karena Slameto (2003 : 65) menyatakan : “agar siswa dapat belajar dengan baik maka metode mengajar  harus dapat di sesuaikan setepat, seefisien dan seefektif mungkin”. Namun pada kenyaanya guru masih banyak yang menggunakan  metode yang biasa di gunakan dan di anggap efektif juga benar dan mereka enggan untuk mengubah metode tersebut, kebiasaan belajar secara teks bukan konteks, sehingga ketika siswa menghadapi masalah baru yang tidak ada contoh penyelesainya siswa merasa kesulitan dan terkadang siswa lupa apa yang hasus di kerjakan.
            Pada kenyataan masih sering di temukan kelemahan peserta didik dalam belajar matematika di jenjang SD. Kelemahan peserta didik ini akan berpengaruh ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Soedjadi (dalam Tim Dosen, 2001 : 46) mengemukakan bahwa:
Kelemahan peserta didik di jenjang  SD yang sering di ungkapkan beberapa pihak antara adalah (1) tidak dapat dengan cepat mengerjakan perkalian dan pembagian, (2) mengerjakan pecahan, (3) memahami geometri, (4) menyelesaikan soal cerita. Kelemahan-kelemahan tentang hal-hal yang mendasar di jenjang SD berpengaruh terhadap penguasaan materi ajar di jenjang SMP maupun SMA.

            Pelajaran kubus dan balok merupakan pelajaran yang abstrak maka guru harus menemukan suatu tehnik pengajaran yang membuat siswa lebih mudah mengerti konsep-konsep kubus dan balok dimana guru menghadirkan suatu tehnik pemodelan yang sesuai dengan pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual melibatkan 7 komponen utama pembelajaran yakni, kontruktivisme, masyarakat belajar, bertanya, menemukan, pemodelan, dan penilaian. Dalam hal ini titik fokus penelitian mencakup pada tehnik pemodelan (modelling).
            Pembelajaran dengan tehnik pemodelan berdasarkan tehnik pendekatan kontekstual adalah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan yang dapat ditiru atau diamati siswa menjadikan siswa lebih mudah memahami materi, juga menggiring siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya, dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Setiap guru bisa menggunakan tehnik pemodelan. Pemodelan berasal dari kata dasar model. Dalam kamus besar bahasa Indonesia  (1992 : 136) bahwa : “model” berarti contoh, pola, ragam, sesuatu yang menjadi acuan atau di tiru”. Sesuai dengan judul dan topik dan materi pelajaran matematika kelas V SD, yaitu kubus dan balok (bangun datar dan bangun ruang), dimana materi tersebut bukan materi asing lagi bagi siswa, karena sudah pernah mereka pelajari sebelumnya. Akan tetapi banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari dan menyelesaikan soal-soal kubus dan balok. Ditambah lagi kondisi pengajaran di sekolah hingga kini masih kurang menekankan pada kegiatan proses.
Banyak upaya yang dilakukan guru sebagai tenaga pengajar untuk mengatasi kesulitan siswa tersebut, salah datunya adalah dengan memilih pengajatan tehnik pemodelan. Menurut J. Ambarita, dkk (1993 : 1) bahwa:  “untuk menerangkan teori dalam matematika sering lebih mudah ditangkap pikiran atau pesan teori itu melalui alat atau benda yang berhubugan dengan teori tersebut terutama dalam benda-benda geometri”.
            Guru sebagai pengajar tentunya mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dalam peningkatan kualitas pendidikan yang mengakibatkan peningkatan hasil belajar siswa. Penggunaan tehnik mengajar sesuai tentunya akan memberikan dampak yang positif terhadap hasil belajar siswa. Untuk itu penulis tertarik meneliti “Penerapan Tehnik Pemodelan Berdasarkan Pendekatan Kontekstual Pada Sub Pokok Bahasan Kubus Dan Balok Di Kelas V SD Negeri No. 173628 Saroha Kecamatan Habinsaran Tahun Pelajaran 2010/2011.

1.2.  Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka penulis mengidentifikasikan beberapa faktor yang dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa sebagai berkut:
  1. Rendahnya hasil belajar matematika siswa
  2. Kurangnya minat dan motivasi siswa untuk mempelajari matematika
  3. Siswa kesulitan untuk mempelajari balok dan kubus
  4. Pemilihan tehnik pengajar yang kurang tepat
  5. Sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal balok dan kubus.
  6. Kurangnya kemampuan guru mengaitkan pelajaran dengan benda-benda yang aga di dalam kehidupan sehari-hari siswa dalam pembelajaran.

1.3.  Pembatasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah penerapan tehnik pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual pada sub pokok bahasan kubus dan balok.

1.4.  Rumusan Masalah
Dengan pembatasan masalah di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah penerapan dengan tehnik pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual efektif.

1.5.  Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk melihat keefektifan pembelajaran tehnik pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual pada sub pokok bahasan balok dan kubus.
1.6.  Manfaat Penelitian
Dengan tercapainya tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini bermanfaat sebagai:
1)      Sebagai bahan pertimbangan bagi guru di lembaga pendidikan formal dalam upaya peningkatan hasil belajar matematika siswa.
2)      Sebagai bahan masukan dan bekal ilmu pengetahuan bagi penulis dalam mengajar matematika di masa yang akan datang..
3)      Dapat di jadikan masukan untuk penelitian yang sejenis













BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1. Kerangka Teoritis
2.1.1 Belajar Dan Pembelajaran Matematika
            Belajar merupakan suatu proses yang di tandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. W.S Winkel (1999:53) mengartikan belajar sebagai : “Suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan,  yang menghasilkan perubahan-perubahan dan nilai sikap”. Selanjutnya Muhibbin Syah (2003 : 68) berpendapat bahwa: “Belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif”.
            Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa belajar merupakaan perubahan tingkah laku yang di peroleh sebagai akibat dari aktivitas mental/psikis dalam diri seseorang yang melibatkan proses berpikir dan terjadi melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh orang yang belajar melalui reaksi terhadap lingkungan dimana dia berada. Perubahan tingkah laku tersebut merupakan hasil dari proses belajar yang dapat berupa pemahaman, perubahan sikap, keterampilan dengan perubahan-perubahan lainnya.
            Matematika adalah ilmu yang berkaitan dengan konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan tetap mulai dari yang mendasar sampai kepada yang terukur. Hal ini sesuai dengan ungkapan oleh Herman Hudojo (1988:3) bahwa:
Matematika berkenaan dengan ide-ide, struktur-struktur dan hubungan-hubungan yang diatur secara logik sehingga matematika itu berkaitan dengan konsep-konsep abstrak. Suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasar atas alasan logik dengan menggunakan pembuktian deduktif.

Belajar matematika merupakan belajar tentang konsep-konsep, struktur-struktur yang terdapat dalam matematika tersebut. NISS (dalam Dian Armanto, 2000:1) mengemukakan bahwa: “Tujuan pembelajaran matematika sebaiknya diarahkan pada pemahaman siswa akan berbagai fakta, prosedur, operasi matematika dan memiliki kemampuan berhitung untuk menyelesaikan soal matematika secara benar”. Dengan pembelajaran matematika siswa diharapkan dapat menyelesaikan masalah  yang ada di sekelilingnya dengan kritis, logis dan jujur.

2.1.2 Kesulitan Belajar
            Kesulitan belajar merupakan hambatan yang  dialami siswa, baik hambatan yang berasal dari dalam diri siswa maupun hambatan yang berasal dari diri siswa yang mempengaruhi aktivitas belajar. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar jika siswa tersebut selalu memperoleh hasil yang rendah dalam belajar. Edy Syahputra (1999:9) menyatakan bahwa:
Seorang siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar jika ditandai beberapa gejala antara lain:
  1. Apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan minimal dalam pelajaran tertentu seperti yang telah ditetapkan pengajaran.
  2. Apabila yang  bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya, intelegensi,  dan bakat) siswa diramalkan akan dapat mencapai prestasi tersebut.
  3. Jika yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan proses-proses perkembangan termasuk penyelesaian soal.
  4. Jika yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya.

Banyak cara untuk mengetahui gejala-gejala munculnya kesulitan belajar M. Entang (1983:20) mengemukakan bahwa: ”Teknik yang  dapat ditempuh dalam memperkirakan siswa mengalami kesulitan belajar yaitu meneliti nilai ujian, menganalisa hasil ujian, melihat tipe kesalahan yang dibuatnya dalam observasi pada saat proses belajar mengajar”.
            Dengan demikian untuk melihat siswa mengalami kesulitan belajar dapat ditinjau dari hasil latihan di kelas maupun pekerjaan rumah, hasil ulangan harian atau penyelesaian tugas-tugas lainnya. Jadi dari hasil evaluasi/tes dapat diketahui kelemahan atau kesulitan yang dialami siswa sehingga dapat memberikan pedoman yang  tepat untuk mengadakan usaha-usaha perbaikan untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa.

2.1.3 Hasil Belajar
            Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran, tujuan belajar telah ditetapkan telebih dahulu oleh guru. Proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar. Anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tjuan pembelajaran. Seperti yang dikemukakan Mulyono Abdurrahman (1999: 37) bahwa: “Hasil belajar adalah kemampuan anak setelah melalui kegiatan belajar”. Jadi hasil belajar siswa untuk bidang studi matematika adalah gambaran hasil belajar terhadap materi yang diberikan dalam bidang  studi matematika.
            Dalam belajar matematika, hasil belajar secara umum dapat diketahui setelah melakukan tes. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Herman Hudojo (1988:145) bahwa: “Cara menilai hasil belajar matematika biasanya menggunakan tes”. Maksud tes yang utama adalah mengukur hasil belajar yang dicapai oleh seseorang  yang belajar matematika.

2.1.4 Pendekatan Kontekstual
            Kontekstual berasal dari bahasa Latin (con = wih + textum = woven ) bermaksud mengikuti konteks atau dalam konteks. Konteks pula bermaksud keadaan, situasi dan kejadian. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) (1991: 503) bahwa: “Kontekstual membawa pengertian yang berkenaan, relevan, ada hubungan atau kegiatan langsung, mengikuti konteks, yang membawa maksud makna dan kepentingan”.

Nurhadi (2001: 1) menuliskan bahwa:
Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan sehingga siswa hanya bersiap menerima apa yang diberikan guru, walaupun seringkali kita mengetahui banyak siswa yang mungkin mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi yang diterimanya, tetapi pada kenyataannya mereka sering kali tidak memahami/mengerti secara mendalam pengetahuan yang bersifat hafalan.

Selanjutnya Nurhadi (2002: 1) menuliskan:
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar. Anak belajar dari mengalami sendiri, mengkontruksi pengetahuan kemudian memberikan makna pada pengetahuan yang diperolehnya. Anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Tugas guru mengatur strategi mengajar, membantu menghubungkan pengetahuan lama dan baru serta memfasilitasi siswa dalam belajar. Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat kepada siswa. Dari guru efektif di depan kelas, siswa menonton ke siswa bekerja dan berkarya, guru hanya mengarahkan dan membimbing siswa.

            Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa pembelajaran kontekstual bertolak dari masalah-masalah nyata sesuai dengan pengalaman siswa, siswa aktif dan guru berperan sebagai fasilitator, siswa bebas mengeluarkan idenya, siswa bebas mengkomunikasikan ide-idenya dan membimbing mereka untuk mengambil keputusan dari hasil negoisasi ide mana yang benar, efisien dan mudah dipahami mereka.
            Agar pembelajaran bermakna bagi siswa, pembelajaran seyogianya dimulai dari masalah dunia nyata (kontekstual). Kemudian siswa diberikan kesempatan seluas-luasnya menyelesaikan masalah itu dengan caranya sendiri sesuai dengan skema yang dimiliki dalam pikiran, artinya siswa diberikan kesempatan melakukan refleksi, interpretasi dan mencari strategi yang sesuai. Setelah siswa menemukan ide atau konsep dari masalah, siswa menggunakannya untuk menyelesaikan masalah kontekstual (sebagai aplikasi). Jadi secara linier Marpaung (2001: 4)  menggambarkan sebagai berikut:



Gambar 2.1. Konsep Kontekstual
 






           
Pembelajaran kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari suatu permasalahan ke permasalahan yang lain atau lebih konteks dimana pengetahuan diperlukan dalam suatu situasi tertentu dan kemudian digunakan dalam konteks yang lain.
            Pada hakekatnya pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa yang mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu: Kontruktivisme, Bertanya, Menemukan, Masyarakat Belajar, Pemodelan, Refleksi dan Penilaian Sebenarnya. (Nurhadi, 2002: 8).

2.1.5 Teknik Pemodelan Sebagai Salah Satu Komponen Utama Pembelajaran
         CTL
            Pemodelan berasal dari kata dasar model. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991: 359) bahwa “model berarti contoh, pola, ragam sesuatu yang menjadi acuan atau ditiru”. Istilah model berkaitan dengan model situasi dan model matematika yang dikembangkan sendiri oleh siswa. Sebagai jembatan antara tingkat pemahaman satu ke tingkat pemahaman yang lain dengan menggunakan istrumen-instrumen vertikal seperti model-model, skema-skema, diagram-diagram, simbol-simbol dan sebagainya.
            Sedangkan Sulaiman (1981: 136) mengemukakan “Model sebagai sesuatu yang dibuat dengan ukuran tiga dimensi, sehingga menyerupai benda aslinya untuk menjelaskan hal-hal yang tak mungkin kita peroleh dari benda sebenarnya”.
            Definisi serupa dikemukakan oleh Sudjana (2002: 156) bahwa: “Model adalah tiruan tiga dimensional dari beberapa objek nyata terlalu besar, terlalu jauh, terlalu kecil, terlalu mahal, terlalu jarang atau terlalu ruwet untuk dibawa ke dalam kelas dipelajari siswa dalam wujud aslinya:.
           
Sementara itu Harjanto (1996: 271) mengemukakan:
Dalam pelaksanaan mengajar tidak senantiasa dapat digunakan benda-benda sesungguhnya disebabkan oleh berbagai faktor karena itu digunakan benda-benda pengganti yang menggantikan benda sebenarnya dalam bentuk sederhana, menghilangkan bagian benda tiruan. Besarnya dapat sama, lebih kecil atau lebih besar, tetapi bentuknya biasanya selalu sama, seperti benda asli.

Dalam pembelajaran CTL. Nurhadi (2002: 16) menerangkan: “Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tentu ada model yang bisa ditiru”. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa pemodelan dalam pembelajaran CTL adalah suatu teknik yang menghadirkan suatu acuan atau sesuatu yang dibuat untuk dapat diamati atau ditiru langsung oleh siswa dalam proses belajar mengajar dapatlah dipahami bahwa dalam pendekatan CTL guru bukan satu-satunya model, model dapat dirancang oleh guru dengan melibatkan siswa.
Dengan penghadiran model ini diharapkan secara tidak langsung siswa lebih mudah memahami dan menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus dicapainya.
Dalam uraian di atas, dapat dikemukakan intinya bahwa dalam proses belajar mengajar ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa baik dalam bentuk apapun yang secara langsung dapat mencapai acuan untuk ditiru oleh siswa, itulah yang dinamakan pembelajaran dengan pemodelan (modeling).



2.1.6 Tinjauan Bangun Ruang
            Jaring-jaring suatu bangun ruang adalah bagian sisi dari keseluruhan bangun yang dihamparkan dan bila dirapatkan (dilipat) akan membentuk ruang bangun sebenarnya.
a.       Mengenal kembali istilah sisi, rusuk dan titik sudut
Gambar 2.2. Kubus
                       


2.2.1 gambar rusuk kubus
                                                C                     BC = Rusuk
                       
                     B
2.2.2 gambar sisi kubus
                        E                         F
                                                                        ADFE = Sisi
                       
                      A                          B
2.2.3 gambar titik sudut kubus
 



            A
ABCD.EFGH adalah bangun kubus.
banyak sisi ada 6 yaitu:
ABCD.EFGH.ADHE.ABFE.BCGF.DCGH
Banyak rusuk ada 12 yaitu:
AB,BC,CD,DA,AE,BF,CG,DH,EF,FG,GH,HE
Banyak titik sudut ada 8 yaitu:
A,B,C,D,E,F,G,H.
c. Menggambar bangun ruang
Ø  menggambar kubus
contoh :
Gambarkanlah sebuah kubus PQRSTUVW dengan panjang rusuk 3 cm, sudur rusuk 300 dengan perbandingan gambar ½
Jawab : gambar kubus PQRS.TUVW

2.3. Langkah menggambar kubus dengan benar






Langkah I :
Menggambar sisi PQUT (sisi muka) berbentuk persegi dengan ukuran PQ 3 Cm. QU = 3 cm
              T                          U



              P                         Q
Langkah 2 :
Menggambar sudut surut, yaitu sudut UTW = 30 0 dengan menggunakan busur. Ukuran TW = 1,5 cm  (didapat dari ½  x  3 cm )
Buatlah garis WV = 3 cm melalui W sejajar dengan TU.
Hubungan U dengan V




Langkah 3 :
Buatlah garis WP = 3 Cm melalui W sejajar TP
Buatlah garis VR = 3 cm melalui V sejajar UQ
Hubungkan  P dengan S dan Q dengan R
Kubus PQRS. TUVW terbentuk.
 








2.1.7. Efektivitas Pembelajaran
Slavin (1994 : 343) menyatakan bahwa: “Keefektifitasan pembelajaran terdiri dari 4 indikator yaitu kualitas pembelajaran (Quality of intruction), kesesuaian tingkat pembelajaran (Approriate levels of intruction), insentive (incentive), dan waktu (time)”. Selanjutnya Kemp (dalam  Mudhoffir, 1987 : 164) mengemukakan: “Cara untuk mengukur keaktiVan pembelajaran yaitu dengan menyajikan suatu pertanyaan; Apakah yang telah di capai siswa untuk menjawab pertanyaan ini harus di ketahui berapa banyak jumlah banyak siswa yang berhasil mencapai tujuan belajar dalam waktu yang telah di tentukan”. Keefektifan juga dapat di ukur dengan melihat minat siswa terhadap kegiatan siswa pembelajaran.
Selain pendapat di atas, Enggen dan Kuchak (dalam Slameto, 1988:1) mengemukakan:
Pembelajaran di katakan efektif apabila siswa secaRa aktif dilibatkan dalam pengorganisasian dan penentuan informasi (pengetahuan). Siswa tidak hanya pasif menerima pengetahuan yang diberikan guru. Hasil pembelajaran ini tidak hanya  meningkatkan pemahaman siswa saja tetapi juga meningkatkan keterampilan berfikir siswa.

            Dengan demikian dalam proses pembelajaran ini perlu diperhatikan bagaimana keterlibatan siswa dalam pengorganisasian dan pengetahuannya apakah mereka aktif. Semakin aktif siswa, semakin efektif pembelajarannya.
Berdasarkan pendapat di atas, maka indikator keaktifan pembelajaran dalam peneltian ini berdasarkan kepada :
1.      Keaktifan siswa dalam pembelajaran
2.      Respon positif siswa
3.      Prestasi siswa baik secata klasifik maupun individual
4.      Ketuntasan TPK

2.2. Kerangka Konseptual
            Dengan belajar seseorang akan dapat mengubah tingkah lakunya menuju kedewasaan dan kematangan dalam berbagai hal. Ada banyak hal yang berguna untuk dipelajari, diantaranya dengan belajar matematika. Matematika pelajaran yang sangat diperlukan karena matematika merupakan ilmu yang dapat di aplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga matematika harus dipelajari. Belajar matematika adalah menggabungkan beberapa konsep yang saling terkait.
            Pembelajaran dengan tehnik pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual merupakan pembelajaran yang memungkin siswa untuk menggunakan pengetahuan informal mereka untuk menyelesaikan masalah. Pengetahuan informal siswa yang merupakan produksi siswa memegang peranan penting dalam penemuan kembali dan pengkontribusian ide atau konsep. Melalui kelas keterkaitan skema siswa akan menjadi lebih kuat sehingga pengertian siswa akan menjadi lebih kuat sehingga pengertian siswa tentang konsep yang mereka kontruksi sendiri lebih kuat.
            Jadi didalam mengerjakan balok dan kubus kepada siswa sekolah dasar, pembelajaran dengan tehnik pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual dapat dijelaskan secara kontrit. Antara siswa akan terjadi interaksi yang aktif sehingga kegiatan belajar terasa lebih bermakna. Dengan demikian diharapkan pembelajaran dengan tehnik pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual akan lebih efektif.
 BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian
            Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yang melihat penerapan teknik pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual.

3.2. Lokasi penelitian.
Penelitian ini dilaksanakan di Negeri No. 173628 Saroha Kecamatan Habinsaran.

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian
            Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri No. 173628 Saroha Kecamatan Habinsaran Tahun Ajaran 2008/2009 yang berjumlah 40 orang dalam satu kelas.

3.4. Alat Pegumpul Data
            Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah instrumen tes. Suharsimi Arikunto (1993: 69) menyatakan syarat-syarat tes antara lain:

a.      Realibilitas Tes
Untuk mencari nilai realibilitas tes, Suharsimi Arikunto (1996: 191) mengemukakan bahwa koefisien reliabilitas tes bentuk uraian dapat menggunakan rumus alpha () sebagai berikut :
            
dengan :            =  koefisien reabilitas tes
                        k          =  banyaknya butir tes
                         =  jumlah varians butir
                        S2x       = Varians total
b.      Validitas tes
Untuk menguji validitas tes, penulis menggunakan rumus korelasi product moment yang dikutip dari Suharsimi Arikunto (1996: 160) sebagai berikut:
dimana:     X  = skor butir
                        Y  = skor total
                        N  = banyak siswa
                        rxy = koefisien korelasi antara skor butir dan skor total
Untuk mengadakan interprestasi mengenai besarnya korelasi adalah sebagai berikut :
0,800 < rxy  1,800           validitas sangat tinggi (sangat baik)
0,600 < rxy  0,800           validitas  tinggi (baik)
0,400 < rxy  0,600           validitas rendah (cukup)
0,200 < rxy  0,400           validitas rendah dan kurang
0,000 < rxy  0,200           validitas sangat rendah

c.       Daya Pembeda Soal
Untuk mengetahui daya pembeda soal di gunakan rumus :
Dimana :
            DB                  = Daya beda
            M1                   = Mean kelompok atas
            M2                   = Mean kelompok bawah
                     = Jumlah kuadrat skor kelompok atas
                        = Jumalah kuadrat skor kelompok bawah
            N1                    = 27% x N
Daya pembeda dikatakan signifikan jika DBhitung > DBtabel  dengan menggunakan tabel determinig of statistic dengan df = 2N1 – 2 pada taraf nyata = 0,05

d.      Tingkat Kesukaran Soal
Untuk mengetahui tingkat kesukaran setiap nomor soal di gunakan rumus :
Keterangan :
             = Jumlah skor sekelompok tertinggi (atas)
             = Jumlah skor sekelompok terendah (bawah)
N1                    = 27 % x banyak subjek x 2
N                     = skor tertinggi
            Kriteria tingkat kesukaran adalah :
  1. Soal dikatakan mudah, jika TK 27%
  2. Soal dikatakan sedang, jika 27% < TK < 73%
  3. Soal dikatakan sukar, jika TK 

3.5.  Tehnik Penskoran
Adapun tehnik penskoran yang ditetapkan oleh peneliti terhadap jawaban siswa berdasarkan pedoman penskoran soal essay pada ujian semester di SD Negeri No. 173628 Saroha Kecamatan Habinsaran adalah sebagai berikut :
Pemberian skor 0         Jika siswa tidak memberikan jawaban kepada jawaban siswa ada tetapi tidak terkait dengan jawaban soal.
Pemberian skor 1         Jika siswa dapat memahami dan dapat membuat model matematikannya
Pemberian skor 2         Jika siswa dapat menyelesaikan sesuai dengan langkah-langkah penyelesaiannya tetapi jawaban akhir salah
Pemberian skor 3         Jika siswa dapat menyelesaikan soal sesuai dengan langkah-langkah penyelesain dan jawaban akhirnya benar.
3.6.  Tehnik Analisa Data
Untuk melihat efektifitas pembelajaran yang sedang berlangsung maka dilakukan analisis data dari hasil post test dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1)      Menghitung skor mentah siswa untuk melihat keuntungan siswa dan tingkat penguasaan siswa. Kriteria tuntas dan menguasai apabila siswa mencapai skor 65% atau 65.
2)      Menghitung ketuntasan belajar secara klasifikal. Kriteria suatu kelas di katakan tuntas belajar jika kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65 %.
3)      Menghitung ketercapaian TPK dari ketuntasan belajar. Ketercapaian TPK yang diharapkan 70% dari TPK yang ada.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.1 Deskripsi Hasil Penelitian
            Efektivitas suatu pembelajaran dapat dilihat dari beberapa criteria seperti tingkat penguasaan siswa, ketuntasan belajar dan ketercapaian TPK dan ketiga hal itu dapat dilihat melalui tes yang diberikan. Pada penelitian ini setelah pembelajaran dengan menggunakan teknik pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual dilakukan maka untuk melihat keefektifan pembelajaran tersebut selanjutnya diberikan tes akhir. Melalui pengolahan data dari hasil tes diperoleh gambaran sebagai berikut.

a. Tingkat penguasaan
            Untuk melihat tingkat penguasaan siswa didasarkan atas pencapaian skor mentah siswa dimana siswa dikatakan menguasai apabila siswa mencapai skor lebih besar atau sama dengan 65% atau 65. dari 40 orang siswa didapati 35 orang yang mencapai skor ≥ 65% dan 5 orang yang mencapai skor < 65%.
            Selanjutnya secara umum tingkat penguasaan siswa yang dikategorikan berdasarkan pedoman skala lima yang dikemukakan oleh Wayan Nurkancana dapat dilihat pada tabel berikut:

4.1 Tabel deskripsi tingkat penguasaan
Tabel 4.1. Deskripsi Tingkat Penguasaan Siswa
Tingkat
Penguasaan
Kategori
Banyak
Siswa
Persen
Jumlah Siswa
90-100
Sangat tinggi
5
12,5%
80-89
Tinggi
14
35%
65-79
Sedang
16
40%
55-64
Rendah
1
2,5%
0-54
Sangat rendah
4
10%

b. Ketuntasan Belajar Siswa
            Seorang siswa dikatakan tuntas belajar apabila siswa mencapai skor lebih besar atau sama dengan 65% atau 65 dan tuntas secara klasikal apabila siswa yang tuntas belajar secara keseluruhan mencapai skor 85% ke atas. Berdasarkan perhitungan banya tabel di atas diperoleh jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 35 orang atau mencapai 12,5%.

c. Ketercapaian TPK
            Dari suatu pembelajaran pencapaian TPK ada diharapkan mencapai ≥ 70%. Berdasarkan tabel ketercapaian TPK di bawah ini dapat dilihat bahwa dari TPK yang ada semua TPK tercapai, sehingga secara keseluruhan TPK tercapai 100%.

4.2 Tabel KetercapaianTPK
Tabel 4. 2.K etercapaianTPK
Nomor TPK
Butir Soal
% ketercapaian TPK
1
1
75,00%
2
2
77,50%
3
3
79,17%
4
4
78,33%
5
5
82,50%


4.2. Temuan Penelitian
            Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan, penulis mengemukakan temuan penelitian sebagai berikut:
  1. Rata-rata pencapaian skor tes akhir adalah 11,4 atau sekitar 76%
  2. Terdapat 35 orang siswa yang mencapai skor 65%
  3. Dari 5 TPK yang ada semua tercapai


4.3 Diskusi Penelitian
            Berdasarkan koreksi yang dilakukan terhadap jawaban siswa dan pembahasan, peneliti  menemukan kesulitan siswa pada umumnya yaitu:
  1. Siswa sulit dalam menunjukkan mana rusuk dan sisi dan juga tidak dapat membayangkan sisi yang sejajar dan rusuk-rusuk yang sejajar pada kubus dan balok.
  2. Siswa sulit dalam menggambarkan jarring-jaring balok karena tidak mengerti apa yang dimaksud dengan jarring-jaring bangun ruang
  3. Siswa sulit menunjukkan diagonal ruang dari kubus dan balok
  4. Siswa sulit menggambarkan kubus dan balok karena kurang mengerti langkah-langkah yang benar dalam menggambarkan kubus dan balok.

Dalam pelaksanaan penelitian ini banyak kekurangan dan kelemahan yang peneliti hadapi yang disebabkan oleh:
  1. Keterbatasan peneliti dalam hal pengetahuan dan pengalaman
  2. Penulis juga memberitahukan bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini belum sempurna yang masih perlu dikembangkan guna mendapatkan hasil yang lebih baik. Dengan menghadirkan model pembelajaran khususnya pada kubus dan balok siswa akan mampu menunjukkan secara benar sisi rusuk dan titik sudut, diagonal bidang dan ruang serta siswa apat menggambarkan jarring-jaring kubus dan balok, siswa dapat menggambarkan kubus dan balok dengan langkah-langkah yang benar.








BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dari keseluruhan uraian pada penelitian ini dapat dikemukakan kesimpulan yaitu:
1.      Kesulitan yang dominan dialami ke-40 siswa dalam mempelajari sub pokok bahasan kubus dan balok adalah:
  1. Kesulitan dalam menentukan rusuk, sisi, rusuk-rusuk sejajar, dan sisi yang saling sejajar pada kubus dan balok
  2. Kesulitan siswa dalam menggambarkan jarring-jaring balok
  3. Kesulitan siswa dalam menggambar kubus dan balok dengan langkha-langkah yang benar
2.      Dari hasil tes diketahui dari 40 orang sisiwa  yang diajarkan dengan pembelajaran teknik pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual didapat 35 orang atau mencapai skor ≥ 65% dan 5 orang mencapai skor < 65%
3.      Siswa yang tuntas belajar sebanyak 35 orang atau mencapai 75,50% ( ≥ 85%) dan data yang tidak tuntas belajar ada 5 orang atau mencapai 12,5%. Dengan demikian pembelajaran dengan teknik pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual efektif dilakukan dalam sub pokok bahasan kubus dan balok.











5.2. Saran

1.      Diharapkan guru SD khususnya mengajar matematika agar memperhatikan dasar dari siswa sebelum memulai bahan ajarnya.
2.      Diharapkan kepada guru agar dapat menerapkan teknik pendekatan kontekstual di dalam mengajarkan bangun ruang lain. Karena dengan teknik pendekatan pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual siswa lebih berani secara spontan mengemukakan pendapatnya tentang kubus dan balok.
3.      Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam upaya mengatasi kesulitan-kesulitan siswa dalam pemberlajaran matematika.














DAFTAR PUSTAKA

Abdulrahman, Mulyono.,(1999), Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Penerbit PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Ambarita, j, dkk.,(1993), Sejauh Mana Kemampuan Mahasiswa Membuat Alat Peraga Matematika Di Laboratotium Matematika FMIPA IKIP Medan Tahun Akademik 1992/ 1993, Medan.

Debdikbud.,(1984), Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar, Depdikbud, Jakarta.

Entang, M.,(1984), Diagnosis Kesulitan Belajar Dan Pengajaran Remedial, Debdikbud Jakarta.

Hujono Herman.,(1998), Belajar Mengajar Matematika, Debdikbud Jakarta.
Marpaung, Y.,(2001), Implementasi Pendidikan Matematika Realistik Di Indonesia, Seminar Nasional Sehari, Makalah Tidak Diterbitkan, Asrama Haji, 05 November, Medan.

Nurhadi., (2002), Pendekatan Kontekstual, Depdiknas, Jakarta

Rustam, E , Cecep., (2002), Manajemen Pendididkan Mutu Berbasis Sekolah Buku 5 Pembelajaran Dan Pengajaran Kentekstual, Depdiknas, Jakarta.

Sihombing, W.L.,(1999), Upaya Memperbaiki Hasil Belajar Siswa Smu Methodist 2 Medan Dalam Mempelajari Materi Program Linier, Laporan Penelitian IKIP Medan, Medan.

Slameto., (2003), Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta Jakarta.

Sujono., (1988), Pengajaran Matematika Untuk Sekolah Menengah, Depdikbud, Jakarta.

Syahputra, Edy., (1996), Pengembangan Hasil Belajar Matematika Pada Siswa Kelas 1 Smu Harapan Medan, Makalah Disajikan Dalam Pasca Sarjana Ikip Surabaya.

Tim, Dosen., (2001), Penulisan Sikripsi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Unimed, Medan.



Umar, Yahya., (2002), Kemampuan Anak Indonesia Di Bidang Metematika Dan IPA Memang Rendah, Kompas 8 Desember 2000, Halaman 10, Jakarta.

Wayan, Nurkancana., (1985), Evaluasi Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya.

Winkel, W.S., (1987), Psikologi Pengajaran, PT. Gramdia, Jakarta

Lampiran 1
Rencana Pembelajaran Matematika Kontekstual
Satuan pendidikan      : SD
Mata pelajaran             : Matematika  
Pokok bahasan            : Bangun Ruang
Sub pokok bahasan     : Kubus dan Balok
Kelas/semester            : V (lima)
Waktu                         : 2 x pertemuan (1 x pertemuan = 2 x 45 menit)
 


I.                   Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Siswa lebih dapat menggunakan denah berskala bangun datar dan bangun ruang.
II.                Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Pertemuan I
Siswa diharapkan dapat :
1.      Menyebutkan dan menunjukkan yang menjadi bagian dari kubus dan balok seperti titik sudut, rusuk dan isi.
2.      Menggambar bangun ruang kubus dan balok dengan langkah-langkah yang benar.
Pertemuan II
1. Siswa dapat menggambar jaring-jaring kubus dan balok.
III.             Urain Materi
1.      Mengingat kembali kubus dan balok dikelas IV SD
2.      Menggambar bangun datar dan sifat-sifat bangun datar yang diberikan.
3.      Menggambar bangun ruang dari sifat-sifat bangun yang diberikan.
4.      Menggambar berbagai bentuk jaring-jaring kubus dan balok.
IV.             Kegiatan Belajar Mengajar
A.    Pendekatan : Teknik pemodelan berdasarkan pendekatan kontekstual
B.     Kelengkapan : Buku cacatan siswa
C.     Alat/ Sarana : Model bangun ruang kubus dan balok.
KEGIATAN BELAJAR DAN MENGAJAR (KBM)
Kegiatan Pembelajaran Dengan Teknik Pemodelan Berdasarkan Pendekatan Kontekstual
Pertemuan I
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Waktu
Kegiatan awal :
  • Membuka dan mengaitkan pelajaran dengan pelajaran terdahulu.

  • Memotivasi siswa dan mengkomunikasikan tujuan pembelajaran dengan membaca.

  • Memperhatikan penjelasan guru dan menjawab pertanyaan guru.
  • Memperhatikan penjelasan guru.

5 menit


5 menit
Kegiatan inti :
  • Menunjukkan model-model bangun ruang pada siswa dan mengatakan bahwa bangun ruang yang akan dipelajari adalah kubus dan balok
  • Menunjukkan kepada siswa satu bagian dari bidang sisi, rusuk dan titik sudut dari model-model kubus dan balok tersebut.
  • Menyuruh siswa membentuk kelompok sesuai dengan urutan tempat duduknya  sambil membagikan satu kubus dan balok pada setiap kelompok.
  • Menyuruh siswa mengamati bagian- bagian balok yang ada di depan mereka sambil memberitahukan kepada siswa contoh lain dari balok yang

  • Dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari seperti kotak pensil sampai siswa menemukan sendiri ada berapa bidang sisi, rusuk dan titik sudut dari balok.
  • Meminta siswa untuk menemukan  sendiri hasil bagian dari rusuk, bidang sisi dan titik sudut dari balok.
  • Meminta kepada siswa untuk mendiskusiakan hasil jawabannya dengan kolompoknya masing-masing.
  • Meminta beberapa siswa mewakili kelompoknya menampilkan hasil diskusinya.
  • Melalui diskusi kelas jawaban siswa di bandingkan.
  • Dari diskusi kelas guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan, ada berapa bidang sisi, rusuk dan balok.






-          Terdapat 12 rusuk balok yag terdiri dari tiga jenis yaitu panjang balok, lebar dan tinggi.
-          Banyak titik sudut ada 8 buah. Banyak sisi yang sejajar ada 3 pasang dan jumlah sisinya adalah 6.
  • Memberika soal kepada siswa dan meminta agar siswa menuliskan jawabannya di papan tulis.




  • Memperhatikan model-model yang di depan mereka.


  • Memperhatikan bagian rusuk, bidang sisi dan titik sudut dari model kubus dan balok.
  • Membagi kelas menjadi 5 kelompok sesuai dengan urutan tempat duduknya.


  • Mengamati model balok yang ada di depan mereka sambil mendiskusikan dengan teman-teman satu kelompoknya.
  • Menampilkan hasil pekerjaannya dan memperhatikan pekerjaan temannya.




  • Memperhatikan penjelasan guru.

































  • Mengerjakan soal yang diberikan guru.


5 menit




10 menit




10 menit






10 menit




10 menit







10 menit






























20 menit
Kegiatan penutup :
  • Menegaskan kembali materi pelajaran. Jika siswa tidak selesai mengerjakan soal, maka guru menyuruh siswa mengerjakannya di rumah.
  • Memperhatikan penjelasan guru
5 menit


Pertemuan II
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
Waktu
Kegiatan awal :
  • Membuka dan mengaitkan pelajaran dengan pelajaran terdahulu.

  • Memotivasi siswa dan mengkomunikasikan tujuan pembelajaran dengan membaca.

  • Memperhatikan penjelasan guru dan menjawab pertanyaan guru.
  • Memperhatikan penjelasan guru.

5 menit



5 menit
Kegiatan inti :
  • Memberikan kepada siswa jaring-jaring kubus dan meminta sisw untuk menemukan ada berapa jaring-jaring yang terdapat pada kubus yang ada pada siswa tersebut dan mencontohkan seperti ruangan kelas ukuran dan bentuk dari kubus.
  • Memberikan kepada siswa model balok untuk membuka balok yang ada didepan mereka yang telah diberikan guru dan mereka akan menemukan sendiri ada berapa jaring-jaring dari balok tersebut dan jaring-jaring sebuah bidang jika dilipat akan membentuk sebuah balok.
  • Meminta kepada siswa untuk bertanya bagi siswa yang belum mengerti apa yang ada di depan mereka .
  • Bertanya kepada siswa ada berapa jaring-jaring kubus dan balok  serta meminta mendiskusikannya dengan kelompoknya masing-masing.
  • Melalui diskusi kelas jawaban siswa dibahas /dibandingkan. Guru membantu siswa menganalisa dan mengevaluasi ragam jawaban.


  • Dari hasil diskusi kelas guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan.



  • Memperhatikan model-model yang di depan siswa.








  • Memperhatikan model balok yang ada didepan siswa.




  • Menampilkan hasil pekerjaannya dan memperhatikan pekerjaan temannya.

  • Menjawab pertanyaan guru dan menyebutkan ada berapa jaring-jaring kubus dan balok.
  • Mengikuti jalannya diskusi aktif, dengan cara memberikan tanggapan terhadap hasil pekerjaan kelompok lain serta menjawab pertanyaan guru.

  • Menarik kesimpulan atas jawaban yang benar.


15 menit











20 menit






10 menit


10 menit



15 menit




5 menit

Kegiatan penutup :
  • Menegaskan kembali materi pelajaran.

  • Memperhatikan penjelasan guru
5 menit


Lampiran 2
LEMBAR OBSERVASI
FORMAT PENGAMATAN
Nama                           : SD
Kelas/Semester            : V/I
Pokok Bahasan           : Geometri
Waktu                         : 2 x 45 menit
Petunjuk: Berilah tanda cek list pada 1, 2, 3, dan 4 sesuai dengan hasil pendapat dan hasil pengamatan anda.
No
Kegiatan
1
2
3
4
Saran
A.
1.
2.
3.
MEMBUKA PELAJARAN
Menarik perhatian siswa
Menjelaskan tujuan pembelajaran
Memberikan motivasi





B

1

2

MENGELOLA WAKTU DAN STRATEGI PEMBELAJARAN
Mempersiapkan materi pelajaran dengan rapi dan sistematis
Melaksanakan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan urutan dan arah yang jelas





C

1

2
3
MENGGALAKKAN KETERLIBATAN SISWA DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Memotivasi seluruh siswa berpartisipasi dalam diskusi kelompok
Mengamati kegiatan siswa
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan soal ke papan tulis





D
1

2
3
4
BERKOMUNIKASIO DENGAN SISWA
Pengungkapan pertanyaan dengan jelas dan singkat
Pemberian waktu berpikir
Memotivasi siswa bertanya
Memberikan respon atas pertanyaan siswa





E
1
2
3
4
AKTIVITAS SISWA
Berpartisipasi dalam diskusi kelompok
Bertanya kepada guru
Mendengarkan atau memperhatikan guru
Menjawab dan menyelesaikan soal yang diberikan guru





F
1
2
MELAKSANAKAN EVALUASI
Memuji kelompok yang kerjasamanya bagus
Memotivasi kelompok yang kerjanya masih kurang





G
1
2
MENUTUP PELAJARAN
Merangkum isi pelajaran
Pemberian PR dan merencanakan tindak lanjut






Lampiran 3
INSTRUMEN PENELITIAN
Petunjuk:
-          Dalam mengerjakan soal tidak dibiarkan kerjasama
-          Kerjakan soal yang lebih mudah  lebih dahulu
-          Tulis nama di lembar jawaban

Soal:
1.      Gambar berikut menunjukkan kubus PQRS.TUVW
a.       Isilah tabel berikut:













b.      Tuliskan rusuk-rusuk yang sejajar dengan:
(i) PQ, (ii) SW, (iii) UV
c.       Tulislah sisi kubus yang sejajar
2.      Dalam gambar balok ABCDEFGH dibawah.
    1. Sebutkan semua diagonal bidangnya.
    2. Sebutkan bidang diagonal ruangnya






3.       Gambarlah sebuah kubus PQRS.TUVW dengan panjang rusuk 4 cm, sudut-sudut 30 dengan perbandingan ½!
4.      Gambarkanlah sebuah jaring-jaring kubus yang kamu ketahui.
5.      Gambarkanlah sebuah jaring-jaring balok yang kamu ketahui.

Lampiran 4
KUNCI JAWABAN
1.      a. Banyak rusuk dan sisi serta namanya pada kubus PQRS.TUVW adalah :
No
Jenis
Jumlahnya
Nama-nama
1
Rusuk
12
PQ,QR,RS,SP,TU,UV,VW,WT,PT,QU,RV,SW.
2
sisi
6
PQRS,TUVW,PQUT,SRVW,QRVU,PWT

    1. Rusuk-rusuk yang sejajar dengan :
i). PQ = SR = TU = WV
ii). SW = RV = QU = WV
iii). UV = TW = QR = PS
    1. Sisi -sisi kubus yang sejajar :
PQRS = TUVW
PQUT = SRWV
QRVU = PSWT
2.      a. Diagonal bidangnya :
AF dan BF, AC dan BD, BG dn CF, DG dan CH, AH dan DE, EG dan FH
b. Diagonal ruangnya :
      BH dan AG
3.      Menggambar kubus PQRS.TUVW dengan panjang rusuk 4 cm, sudut-sudut 30 dn perbandingan gambar ½
Gambar kubus PQRS.TUVW










Langkah 1 :
Menggambar sisi PQUT (sisi muka) berbentuk persegi dengan ukuran PQ = 4 cm, dan QU = 4 cm.




langkah 2 :
menggambar sudut-sudut yaitu sudut UTW = 30. Ukurlah TW = 2 cm (1/2 x 4 cm).
buatlah garis WPV = 4 cm melalui W sejajar dengan TU. Hubungkan U dengan V.





Langkah 3 :
Buatlah garis WS = 4 cm melalui W sejajar TP
Buatlah garis VR = 4 cm melalui V sejajar UQ
Hubungkan P dengan S dan Q dengan R
Kubus PQRS.TUVW terbentuk.









4.      Kubus ABCDEFGH
                                                                     Jaring-jaring kubus ABCDEFGH






5.      Balok PQRSTUVW
                                                                              Jaring-jaring balok PQRSTUVW







Komentar FB

Komentar Blog